DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR..............................................................................
DAFTAR
ISI...........................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang.............................................................................
B.
Rumusan
masalah.......................................................................
C.
Tujuan
.........................................................................................
D.
Manfaat
.......................................................................................
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.
Kajian
teori…………………………………………………………...
B.
Pembahasan
1.
Pengertian model
pembelajaran………………………………
2.
Jenis –
jenis model pembelajaran…………………………….
3.
Langkah
langkah dalam menerapkan model pembelajaran..
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A.
Kesimpulan……………………………………………………….....
B.
Saran…………………………………………………………………
DAFTAR PUSTAKA
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang
telah memberi rahmat kepada kita, shalawat serta salam senantiasa kita haturkan kepada Nabi besar Muhammad saw.
Dengan mengucap Bismillahirrohmanirohim, penulis memperkenalkan makalah ini
dengan judul “Model – Model Pembelajaran”.
Dalam
penyusunan makalah ini tidak terlepas dari dukungan orang tua. Penulis juga
mengucapkan terima kasih kepada Dosen Winarno, M.Pd. Dan tak
lupa ucapan terima kasih kepada teman-teman yang telah banyak membantu dalam
pembuatan makalah ini.
Namun
demikian, penulis menyadari penelitian ini masih jauh dari sempurna, untuk itu
kritik, saran dan masukan yang membangun sangat penulis harapkan, agar bisa
menjadi masukan kedepannya bagi penulis.
Tarakan,6 Oktober 2013
Penyusun
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang
Sekolah
sebagai wahana pendidikan formal mempunyai tujuan untuk mencerdaskan kehidupan
bangsa. Oleh karena itu mempersiapkan sekolah dengan segala sarana maupun
prasarana pendidikan seperti perbaikan kurikulum, peningkatan kualitas guru dan
peningkatan pelayanan sekolah pada masyarakat merupakan pekerjaan yang utama
selain pekerjaan-pekerjaan yang lainnya. Kurikulum yang telah direvisi
menyarankan agar kegiatan pengajaran tidak hanya satu arah dari guru saja
melainkan dua arah, timbal balik antara guru dan siswa.
Dalam
komunikasi dua arah tersebut guru harus aktif merencanakan, memilih,
membimbing, dan menganalisa berbagai kegiatan yang dilakukan siswa, sebaliknya
siswa diharapkan untuk aktif terlebih mental maupun emosional.
Dalam
pembelajaran seringkali dijumpai adanya kecenderungan siswa yang tidak mau
bertanya kepada guru meskipun mereka sebenarnya belum mengerti tentang materi
yang disampaikan guru. Masalah ini membuat guru kesulitan dalam memilih metode
pembelajaran yang tepat untuk menyampaikan materi
Pendidikan
merupakan suatu aspek kehidupan yang sangat mendasar bagi pembangunan bangsa
suatu Negara. Dalam penyelenggaraannya, pendidikan di sekolah yang melibatkan
guru sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik, diwujudkan dengan adanya
interaksi belajar mengajar atau proses pembelajaran. dalam konteks ini, guru
dituntut untuk membentuk suatu perencanaan kegiatan pembelajaran sistematis
yang berpedoman pada kurikulum yang saat itu digunakan.
B.
Rumusan
masalah
1.
Bagaimana mahasiswa dapat mengerti atau dapat
memahami model pembelajaran.
2.
Mengapa diperlukannya model pembelajaran
dalam pendidikan.
3.
Apa pengaruh model pembelajaran dalam
pendidikan
C.
Tujuan
1. Setelah
mempelajari model pembelajaran ini mahasiswa diharapkan dapat mengerti atau
dapat memahami model pembelajaran.
2. Agar
mahasiswa dapat mengetahui prorses belajar mengajar dengan model pembelajaran
yang ada dalam proses pendidikan.
3. Dapat mempermudah siswa dalam belajar.
D.
Manfaat
Manfaat bagi siswa dalam bidang pendidikan
:
1. Meningkatkan kepekaan dan
kesetiakawanan sosial
2. Memungkinkan para siswa saling belajar
mengenal sikap, ketrampilan, informasi, dan
perilaku sosial.
3. Meningkatkan rasa saling percaya
kepada sesama manusia
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.
Kajian
Teori
Model
pembelajaran problem based learning (pembelajaran berbasis masalah),
awalnya dirancang untuk program graduate bidang kesehatan oleh Barrows,
Howard (1986) yang kemudian diadaptasi dalam bidang pendidikan oleh Gallagher
(1995). Problem based learning disetting dalam bentuk pembelajaran yang
diawali dengan sebuah masalah dengan menggunakan instruktur sebagai pelatihan
metakognitif dan diakhiri dengan penyajian dan analisis kerja siswa.
Model
pembelajaran problem based learning berlandaskan pada psikologi
kognitif, sehingga fokus pengajaran tidak begitu banyak pada apa yang
sedang dilakukan siswa, melainkan kepada apa yang sedang mereka pikirkan pada
saat mereka melakukan kegiatan itu.
Robert
E.Slavin (2009: 4-5) mengemukakan bahwa cooperative learning merujuk
pada berbagai macam metode pengajaran di mana para siswa bekerja dalam
kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari
materi pelajaran. Dalam kelas kooperatif, para siswa diharapkan dapat
saling membantu, saling mendiskusikan dan berargumentasi, untuk mengasah
pengetahuan yang mereka kuasai saat itu dan menutup kesenjangan dalam
pemahaman masing-masing.
Pembelajaran kooperatif dapat membantu membuat
perbedaan menjadi bahan pembelajaran dan bukannya menjadi masalah.Hal tersebut
dikarenakan dalam kelas kooperatif, para siswa dikelompokkan secara
heterogen berdasarkan perbedaan latar belakang etnik siswa.
Menurut Kaifa dalam Udin Syaefudin Sa’ud
(2010: 126) model pembelajaran Quantum Teaching
adalah salah satu model pembelajaran khususnya menyangkut keterampilan guru
dalam merancang, mengembangkan, dan mengelola sistem pembelajaran sehingga guru
mampu menciptakan suasana pembelajaran yang aktif, efektif, menggairahkan, dan
memiliki keterampilan hidup.
Carol Locust dalam Tarmizi Ramadhan (2010) berikut ini.
Tongkat berbicara telah
digunakan selama berabad-abad oleh suku Indian sebagai alat menyimak secara
adil dan tidak memihak. Tongkat berbicara sering digunakan kalangan dewan untuk
memutuskan siapa yang mempunyai hak berbicara. Pada saat pimpinan rapat mulai
berdiskusi dan membahas masalah, ia harus memegang tongkat berbicara. Tongkat
akan pindah ke orang lain apabila ia ingin berbicara atau menanggapinya. Dengan
cara ini tongkat berbicara akan berpindah dari satu orang ke orang lain jika
orang tersebut ingin mengemukakan pendapatnya. Apabila semua mendapatkan
giliran berbicara, tongkat itu lalu dikembalikan lagi ke ketua/pimpinan rapat.
B.
Pembahasan
1. Pengertian Model Pembelajaran
Model pembelajaran adalah pola atau
rencana yang dapat digunakan untuk mengoperasikan kurikulum. Dengan cara
merancang materi pembelajaran, kegiatan belajar yang
telah dirancang dan dilaksanakan dengan penuh keahlian, dengan ini guru dapat menghasilkan suasana dan proses
pembelajaran yang efektif.
2. Jenis – Jenis Model Pembelajaran
Pembelajaran berbasis masalah (Problem
Based Learning) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah
dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara
berfikir kritis dan ketrampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh
pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran. Pembelajaran
berbasis masalah digunakan untuk merangsang berfikir tingkat tinggi dalam
situasi berorientasi masalah
Pembelajaran berbasis masalah adalah
pembelajaran yang ciri utamanya pengajuan pertanyaan atau masalah, memusatkan
pada keterkaitan antar disiplin, penyelidikan autentik, kerjasama dan
menghasilkan karya atau hasil peraga. Model pembelajaran menyajikan masalah
autentik dan bermakna sehingga siswa dapat melakukan penyelidikan dan menemukan
sendiri.
Model ini bercirikan penggunaan masalah
kehidupan nyata sebagai sesuatu yang harus dipelajari siswa untuk melatih dan
meningkatkan kemampuan berfikir kritis dan menyelesaikan masalah, serta
mendapat pengetahuan konsep-konsep penting. Pendekatan pembelajaran ini
mengutamakan proses belajar dimana tugas guru harus memfokuskan diri untuk
membantu siswa mencapai ketrampilan mengarahkan diri. Pembelajaran berdasarkan
masalah penggunaannya di dalam tingkat berfikir lebih, dalam situasi
berorientasi pada masalah, termasuk bagaimana belajar.
Guru dalam pembelajaran berdasarkan
masalah berperan sebagai penyaji masalah, penanya, mengadakan dialog membantu
menyelesaikan masalah, dan memberi fasilitas penelitian. Selain itu guru
menyiapkan dukungan dan dorongan yang dapat meningkatkan pertumbuhan
intelektual siswa.
Pembelajaran berdasarkan masalah hanya
dapat terjadi jika guru dapat menciptakan lingkungan kelas yang terbuka dan
membimbing pertukaran gagasan.
Ciri-Ciri Pembelajaran Berbasis Masalah
Pembelajaran Berbasis Masalah memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a.
pengajuan masalah atau
pertanyaan
b.
Keterkaitan dengan
Berbagai Masalah
c.
Penyelidikan yang
Autentik
d.
Menghasilkan dan
Memamerkan Hasil/Karya
e.
Kolaborasi
B. Cooperative
Learning
Cooperative
Learning adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau
perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur
kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih.
Dimana pada tiap kelompok tersebut terdiri dari siswa-siswa berbagai tingkat
kemampuan, melakukan berbagai kegiatan belajar untuk meningkatkan pemahaman
mereka tentang materi pelajaran yang sedang dipelajari. Setiap anggota kelompok
bertanggung jawab untuk tidak hanya belajar apa yang diajarkan tetapi juga
untuk membantu rekan belajar, sehingga bersama-sama mencapai
keberhasilan. Semua Siswa berusaha sampai semua anggota kelompok berhasil
memahami dan melengkapinya. Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk
mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran yaitu Hasil belajar akademik, penerimaan terhadap
perbedaan individu, dan pengembangan keterampilan sosial.
Prinsip model
pembelajaran Cooperative Learning yaitu :
1. Saling ketergantungan positif
2. Tanggung jawab perseorangan
3. Tatap muka
4. Komunikasi antar anggota dan
5. Evaluasi proses kelompok.
Model
pembelajaran kooperatif memiliki basis pada teori psikologi kognitif dan teori
pembelajaran sosial. Fokus pembelajaran kooperatif tidak saja tertumpu pada apa
yang dilakukan peserta didik tetapi juga pada apa yang dipikirkan peserta didik
selama aktivitas belajar berlangsung. Informasi yang ada pada kurikulum tidak
ditransfer begitu saja oleh guru kepada peserta didik, tetapi peserta didik
difasilitasi dan dimotivasi untuk berinteraksi dengan peserta didik lain dalam
kelompok, dengan guru dan dengan bahan ajar secara optimal agar ia mampu
mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Dalam model pembelajaran kooperatif,
guru berperan sebagai fasilitator, penyedia sumber belajar bagi peserta didik,
pembimbing peserta didik dalam belajar kelompok, pemberi motivasi peserta didik
dalam memecahkan masalah, dan sebagai pelatih peserta didik agar memiliki
ketrampilan kooperatif.
C. Quantum Teaching
Adalah pengubahan belajar yang meriah
dengan segala nuansanya. Dalam quantum teaching juga menyertakan segala kaitan
interaksi dan perbedaan yang memaksimalkan momen belajar. Quantum teaching berfokus pada
hubungan dinamis dalam lingkungan kelas. Menurut De porter, B (2004),
quantum teaching mempunyai dua bagian penting yaitu dalam seksi konteks
dan dalam seksi isi. Dalam seksi konteks, akan menemukan semua bagian yang
dibutuhkan untuk mengubah: suasana yang memberdayakan, landasan yang kukuh,
lingkungan yang mendukung, dan rancangan belajar yang dinamis. Sedangkan dalam
seksi isi, akan menemukan keterampailan penyampaian untuk kurikulum apapun,
disamping strategi yang dibutuhkan siswa untuk bertanggung jawab atas apa yang
mereka pelajari: penyanjian yang prima, fasilitas yang luwes, keterampilan
belajar untuk belajar, dan keterampilan hidup.
Karakteristik model pembelajaran
quantum teaching terdiri dari:
1. Sintakmatik
2. Sistem Sosial
3. Prinsip
Reaksi
4. Sistem
Pendukung
5. Dampak
Intruksional dan Pengiring
D.
Talking Stick
Adalah suatu
model pembelajaran kelompok dengan bantuan tongkat, kelompok yang memegang
tongkat terlebih dahulu wajib menjawab pertanyaan dari guru setelah siswa
mempelajari materi pokoknya, selanjutnya kegiatan tersebut diulang
terus-menerus sampai semua kelompok mendapat giliran untuk menjawab pertanyaan
dari guru. Dalam penerapan model pembelajaran Kooperatif Tipe Talking Stik ini,
guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok dengan anggota 5 atau 6 orang yang
heterogen. Kelompok dibentuk dengan mempertimbangkan keakraban, persahabatan
atau minat, yang dalam topik selanjutnya menyiapkan dan mempersentasekan
laporannya kepada seluruh kelas.
B.
Langkah –
langkah dalam menerapkan model pembelajaran
Langkah – langkah dalam menerapkan
model pembelajaran antara lain sebagai berikut :
Penerapan
model pembelajaran berbasis masalah terdiri dari lima langkah utama yang
dimulai dengan guru memperkenalkan siswa dengan situasi masalah dan diakhiri
dengan penyajian dan analisis hasil kerja siswa.
Tahap 1
Orientasi siswa pada masalah
Guru
menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan,
memotivasi siswa agar terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
memotivasi siswa agar terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
Tahap 2
Mengorganisasi siswa untuk belajar Guru membantu siswa mendefinisikan dan
mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.
Tahap 3
Membimbing penyelidikan individual dan kelompok
Guru
mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan
eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalahnya.
Tahap 4
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Guru
membantu siswa merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan,
video, dan model serta membantu berbagai tugas dengan temannya
Tahap 5 Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Guru membantu siswa melakukan refleksi atau evaluasi terhadap
penyelidikan dan proses-proses yang mereka gunakan.
|
Langkah
|
Indikator
|
Tingkah Laku Guru
|
|
Langkah 1
|
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa.
|
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan
mengkomunikasikan kompetensi dasar yang akan dicapai serta memotivasi siswa.
|
|
Langkah 2
|
Menyajikan informasi
|
Guru menyajikan informasi kepada siswa
|
|
Langkah 3
|
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar
|
Guru menginformasikan pengelompokan siswa
|
|
Langkah 4
|
Membimbing kelompok belajar
|
Guru memotivasi serta memfasilitasi kerja siswa dalam
kelompokkelompok belajar
|
|
Langkah 5
|
Evaluasi
|
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi
pembelajaran yang telah dilaksanakan
|
|
Langkah 6
|
Memberikan penghargaan
|
Guru memberi penghargaan hasil belajar individual dan
kelompok.
|
C.
Quantum Teaching
1. Tumbuhkan
Guru membuat pertanyaan tentang
kemampuan siswa dengan memanfaatkan pengalaman siswa dan mencari tanggapan,
manfaat serta komitmen siswa.
Guru membuat strategi dengan
melakukan aplikasi ataupun cerita tentang pelajaran yang bersangkutan.
2. Alami
Guru memanfaatkan pengetahuan dan
keingintahuan siswa berdasarkan pengalaman siswa dan mampu mengasah otak siswa
agar dapat menyelesaikan masalah. Siswa dapat memahami informasi ataupun
kegiatan serta memanfaatkan fasilitas yang ada sesuai dengan kebutuhan siswa.
3. Namai
Pemberian nama (simbol-simbol)
ataupun identitas dan mendefinisikan suatu pertanyaan. Guru mengajarkan konsep,
keterampilan berpikir, dan strategi belajar dengan menggunakan gambar, warna,
alat bantu, kertas atau alat yang lainnya. Siswa dapat mengetahui informasi,
fakta, rumus, pemikiran, tempat dan sebagainya berdasarkan pengalaman agar
pengetahuan tersebut berarti.
4. Demonstrasikan
Guru memberi peluang untuk
menerjemahkan dan menerapkan pengetahuan siswa ke dalam pembelajaran yang lain
dan ke dalam kehidupannya. Siswa dapat memperagakan atau mengaplikasikan
tingkat kecakapannya dengan pelajaran.
5. Ulangi
Guru mengulangi hal-hal yang kurang
jelas bagi siswa. Siswa dapat dengan mudah memahami dan mengetahui pelajaran
tersebut. Guru memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengajarkan pengetahuan
kepada siswa yang lain.
6. Rayakan
Mengadakan perayaan bagi siswa akan
mendorong siswa memperkuat rasa tanggung jawab dan mengamati proses belajar
sendiri. Perayaan tersebut akan mengajarkan siswa mengenai motivasi belajar,
kesuksesan, langkah menuju kemenangan. Pujian yang didapatkan akan mendorong
siswa agar tetap dalam keadaan bersemangat dalam proses belajar mengajar.
Biasanya pada saat siswa mencapai sesuatu, siswa hanya melanjutkan kegiatan
selanjutnya, tanpa menciptakan daya pendorong untuk mengulangi keberhasilan
itu. Sebagai guru, kiranya menanamkan bibit kesuksesan, dan selalu
menghubungkan belajar dengan perayaan. Perayaan tersebut dapat dilakukan dengan
tepuk tangan, pujian dan memberi penilaian.
D.
Talking Stick
Adapun Langkah-langkah Model Pembelajaran
Talking Stick adalah sebagi berikut :
1.
Guru
menyiapkan sebuah tongkat yang panjangnya 20 cm.
2.
Guru
menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari,kemudian memberikan kesempatan
para kelompok untuk membaca dan mempelajari materi pelajaran.
3.
Siswa
berdiskusi membahas masalah yang terdapat di dalam wacana.
4.
Setelah
siswa selesai membaca materi pelajaran dan mempelajari isinya, guru
mempersilahkan siswa untuk menutup isi bacaan.
5.
Guru
mengambil tongkat dan memberikan kepada salah satu siswa, setelah itu guru
memberikan pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat tersebut harus
menjawabnya, demikian sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk
menjawab setiap pertanyaan dari guru.
6.
Guru
memberikan kesimpulan.
7.
Guru
memberikan evaluasi/penilaian.
8.
Guru
menutup pembelajaran.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dari kutipan-kutipan diatas dapat
disimpulkan bahwa model-model pembelajaran sangat dipergunakan dalam pendekatan
pembelajaran, sehingga peserta didik dan pendidik dapat melakukan proses
pembelajaran secara efektif optimal dan mencapai tujuan pembelajaran yang telah
direncanakan.
Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu
kritik, saran dan masukan yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan, agar
bisa menjadi masukan kedepannya bagi penulis.
DAFTAR
PUSTAKA
Anonim.
2012. Cooperative Learning.
Emildadiany, Novi. 2008.Cooperative
Learning TeknikJigsaw.http://Akhmadsudrajat.Wordpress.Com/2008/07/31/Cooperative-Learning-Teknik-Jigsaw/.
Slavin,
Robert E.2005.COOPERATIVE LEARNING Teori, Riset, dan Praktik
diterjemahkan oleh Narilita Yusron.Bandung:Penerbit Nusa Media.
Sunartombs.
2009. Pengertian Cooperative Learning.
http://sunartombs.wordpress.com/2009/03/20/pengertian-cooperative-learning/. diakses tanggal 19 oktober 2012.
http://basicartikel.blogspot.com/2013/01/model-pembelajaran-quantum-teaching.html
Aceng,
Jaelani dan Sumadi.2010. Penerapan Metode Quantum Teaching Untuk
Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika pada Materi Pokok Penjumlahan dan
Pengurangan. EduMa,
Vol. 2, No. 1
http://www.sriudin.com/2012/04/model-pembelajaran-talking-stick.html