Senin, 02 Desember 2013

model-model pembelajaran



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................
DAFTAR ISI...........................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
A.   Latar belakang.............................................................................
B.   Rumusan masalah.......................................................................
C.   Tujuan .........................................................................................
D.   Manfaat .......................................................................................
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A.   Kajian teori…………………………………………………………...
B.   Pembahasan
1.    Pengertian model pembelajaran………………………………
2.    Jenis – jenis model pembelajaran…………………………….
3.    Langkah langkah dalam menerapkan model pembelajaran..

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN
A.   Kesimpulan……………………………………………………….....
B.   Saran…………………………………………………………………
DAFTAR PUSTAKA



KATA PENGANTAR


            Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberi rahmat kepada kita, shalawat serta salam senantiasa  kita haturkan kepada Nabi besar Muhammad saw. Dengan mengucap Bismillahirrohmanirohim, penulis memperkenalkan makalah ini dengan judul “Model – Model Pembelajaran”.
            Dalam penyusunan makalah ini tidak terlepas dari dukungan orang tua. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Dosen Winarno, M.Pd. Dan tak lupa ucapan terima kasih kepada teman-teman yang telah banyak membantu dalam pembuatan makalah ini.

            Namun demikian, penulis menyadari penelitian ini masih jauh dari sempurna, untuk itu kritik, saran dan masukan yang membangun sangat penulis harapkan, agar bisa menjadi masukan kedepannya bagi penulis.
           








Tarakan,6 Oktober 2013

                                                                        Penyusun


BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar belakang
      Sekolah sebagai wahana pendidikan formal mempunyai tujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karena itu mempersiapkan sekolah dengan segala sarana maupun prasarana pendidikan seperti perbaikan kurikulum, peningkatan kualitas guru dan peningkatan pelayanan sekolah pada masyarakat merupakan pekerjaan yang utama selain pekerjaan-pekerjaan yang lainnya. Kurikulum yang telah direvisi menyarankan agar kegiatan pengajaran tidak hanya satu arah dari guru saja melainkan dua arah, timbal balik antara guru dan siswa.
      Dalam komunikasi dua arah tersebut guru harus aktif merencanakan, memilih, membimbing, dan menganalisa berbagai kegiatan yang dilakukan siswa, sebaliknya siswa diharapkan untuk aktif terlebih mental maupun emosional.
      Dalam pembelajaran seringkali dijumpai adanya kecenderungan siswa yang tidak mau bertanya kepada guru meskipun mereka sebenarnya belum mengerti tentang materi yang disampaikan guru. Masalah ini membuat guru kesulitan dalam memilih metode pembelajaran yang tepat untuk menyampaikan materi
      Pendidikan merupakan suatu aspek kehidupan yang sangat mendasar bagi pembangunan bangsa suatu Negara. Dalam penyelenggaraannya, pendidikan di sekolah yang melibatkan guru sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik, diwujudkan dengan adanya interaksi belajar mengajar atau proses pembelajaran. dalam konteks ini, guru dituntut untuk membentuk suatu perencanaan kegiatan pembelajaran sistematis yang berpedoman pada kurikulum yang saat itu digunakan.

B.   Rumusan masalah
1.    Bagaimana mahasiswa dapat mengerti atau dapat memahami model pembelajaran.
2.    Mengapa diperlukannya model pembelajaran dalam pendidikan.
3.    Apa pengaruh model pembelajaran dalam pendidikan

C.   Tujuan
1.    Setelah mempelajari model pembelajaran ini mahasiswa diharapkan dapat mengerti atau dapat memahami model pembelajaran.
2.    Agar mahasiswa dapat mengetahui prorses belajar mengajar dengan model pembelajaran yang ada dalam proses pendidikan.
3.    Dapat  mempermudah siswa dalam belajar.

D.   Manfaat
         Manfaat bagi siswa dalam bidang pendidikan :
1.    Meningkatkan kepekaan dan kesetiakawanan sosial
2.    Memungkinkan para siswa saling belajar mengenal sikap, ketrampilan, informasi, dan  perilaku sosial.
3.    Meningkatkan rasa saling percaya kepada sesama manusia

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.   Kajian Teori
      Model pembelajaran problem based learning (pembelajaran berbasis masalah), awalnya dirancang untuk program graduate bidang kesehatan oleh Barrows, Howard (1986) yang kemudian diadaptasi dalam bidang pendidikan oleh Gallagher (1995). Problem based learning disetting dalam bentuk pembelajaran yang diawali dengan sebuah masalah dengan menggunakan instruktur sebagai pelatihan metakognitif dan diakhiri dengan penyajian dan analisis kerja siswa.
      Model pembelajaran problem based learning berlandaskan pada psikologi kognitif, sehingga fokus pengajaran tidak begitu banyak pada apa yang sedang dilakukan siswa, melainkan kepada apa yang sedang mereka pikirkan pada saat mereka melakukan kegiatan itu.

Robert E.Slavin (2009: 4-5) mengemukakan bahwa cooperative learning merujuk pada berbagai macam metode pengajaran di mana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi pelajaran. Dalam kelas kooperatif, para siswa diharapkan dapat saling membantu, saling mendiskusikan dan berargumentasi, untuk mengasah pengetahuan yang mereka kuasai saat itu dan menutup kesenjangan dalam pemahaman masing-masing.
      Pembelajaran kooperatif dapat membantu membuat perbedaan menjadi bahan pembelajaran dan bukannya menjadi masalah.Hal tersebut dikarenakan dalam kelas kooperatif, para siswa dikelompokkan secara heterogen berdasarkan perbedaan latar belakang etnik siswa.

      Menurut Kaifa dalam Udin Syaefudin Sa’ud (2010: 126) model pembelajaran Quantum Teaching  adalah salah satu model pembelajaran khususnya menyangkut keterampilan guru dalam merancang, mengembangkan, dan mengelola sistem pembelajaran sehingga guru mampu menciptakan suasana pembelajaran yang aktif, efektif, menggairahkan, dan memiliki keterampilan hidup.

      Carol Locust dalam Tarmizi Ramadhan (2010) berikut ini.
Tongkat berbicara telah digunakan selama berabad-abad oleh suku Indian sebagai alat menyimak secara adil dan tidak memihak. Tongkat berbicara sering digunakan kalangan dewan untuk memutuskan siapa yang mempunyai hak berbicara. Pada saat pimpinan rapat mulai berdiskusi dan membahas masalah, ia harus memegang tongkat berbicara. Tongkat akan pindah ke orang lain apabila ia ingin berbicara atau menanggapinya. Dengan cara ini tongkat berbicara akan berpindah dari satu orang ke orang lain jika orang tersebut ingin mengemukakan pendapatnya. Apabila semua mendapatkan giliran berbicara, tongkat itu lalu dikembalikan lagi ke ketua/pimpinan rapat.

B.   Pembahasan
1.    Pengertian Model Pembelajaran
         Model pembelajaran adalah pola atau rencana yang dapat digunakan untuk mengoperasikan kurikulum. Dengan cara merancang materi pembelajaran, kegiatan belajar yang telah dirancang dan dilaksanakan dengan penuh keahlian, dengan ini  guru dapat menghasilkan suasana dan proses pembelajaran yang efektif.




2.    Jenis – Jenis Model Pembelajaran
      Pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berfikir kritis dan ketrampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran. Pembelajaran berbasis masalah digunakan untuk merangsang berfikir tingkat tinggi dalam situasi berorientasi masalah
      Pembelajaran berbasis masalah adalah pembelajaran yang ciri utamanya pengajuan pertanyaan atau masalah, memusatkan pada keterkaitan antar disiplin, penyelidikan autentik, kerjasama dan menghasilkan karya atau hasil peraga. Model pembelajaran menyajikan masalah autentik dan bermakna sehingga siswa dapat melakukan penyelidikan dan menemukan sendiri.
      Model ini bercirikan penggunaan masalah kehidupan nyata sebagai sesuatu yang harus dipelajari siswa untuk melatih dan meningkatkan kemampuan berfikir kritis dan menyelesaikan masalah, serta mendapat pengetahuan konsep-konsep penting. Pendekatan pembelajaran ini mengutamakan proses belajar dimana tugas guru harus memfokuskan diri untuk membantu siswa mencapai ketrampilan mengarahkan diri. Pembelajaran berdasarkan masalah penggunaannya di dalam tingkat berfikir lebih, dalam situasi berorientasi pada masalah, termasuk bagaimana belajar.
      Guru dalam pembelajaran berdasarkan masalah berperan sebagai penyaji masalah, penanya, mengadakan dialog membantu menyelesaikan masalah, dan memberi fasilitas penelitian. Selain itu guru menyiapkan dukungan dan dorongan yang dapat meningkatkan pertumbuhan intelektual siswa.
      Pembelajaran berdasarkan masalah hanya dapat terjadi jika guru dapat menciptakan lingkungan kelas yang terbuka dan membimbing pertukaran gagasan.
Ciri-Ciri Pembelajaran Berbasis Masalah
Pembelajaran Berbasis Masalah memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a.    pengajuan masalah atau pertanyaan
b.    Keterkaitan dengan Berbagai Masalah
c.    Penyelidikan yang Autentik      
d.    Menghasilkan dan Memamerkan Hasil/Karya
e.    Kolaborasi
B. Cooperative Learning
      Cooperative Learning adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih. Dimana pada tiap kelompok tersebut terdiri dari siswa-siswa berbagai tingkat kemampuan, melakukan berbagai kegiatan belajar untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang materi pelajaran yang sedang dipelajari. Setiap anggota kelompok bertanggung jawab untuk tidak hanya belajar apa yang diajarkan tetapi juga untuk membantu rekan belajar, sehingga bersama-sama mencapai keberhasilan. Semua Siswa berusaha sampai semua anggota kelompok berhasil memahami dan melengkapinya. Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran yaitu  Hasil belajar akademik, penerimaan terhadap perbedaan individu, dan pengembangan keterampilan sosial.
      Prinsip model pembelajaran Cooperative Learning yaitu :
1.    Saling ketergantungan positif
2.    Tanggung jawab perseorangan
3.    Tatap muka
4.    Komunikasi antar anggota dan
5.    Evaluasi proses kelompok.
      Model pembelajaran kooperatif memiliki basis pada teori psikologi kognitif dan teori pembelajaran sosial. Fokus pembelajaran kooperatif tidak saja tertumpu pada apa yang dilakukan peserta didik tetapi juga pada apa yang dipikirkan peserta didik selama aktivitas belajar berlangsung. Informasi yang ada pada kurikulum tidak ditransfer begitu saja oleh guru kepada peserta didik, tetapi peserta didik difasilitasi dan dimotivasi untuk berinteraksi dengan peserta didik lain dalam kelompok, dengan guru dan dengan bahan ajar secara optimal agar ia mampu mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Dalam model pembelajaran kooperatif, guru berperan sebagai fasilitator, penyedia sumber belajar bagi peserta didik, pembimbing peserta didik dalam belajar kelompok, pemberi motivasi peserta didik dalam memecahkan masalah,  dan sebagai pelatih peserta didik agar memiliki ketrampilan kooperatif.
C. Quantum Teaching 
      Adalah pengubahan belajar yang meriah dengan segala nuansanya. Dalam quantum teaching juga menyertakan segala kaitan interaksi dan perbedaan yang memaksimalkan momen belajar. Quantum teaching berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas. Menurut De porter, B (2004), quantum  teaching mempunyai dua bagian penting yaitu dalam seksi konteks dan dalam seksi isi. Dalam seksi konteks, akan menemukan semua bagian yang dibutuhkan untuk mengubah: suasana yang memberdayakan, landasan yang kukuh, lingkungan yang mendukung, dan rancangan belajar yang dinamis. Sedangkan dalam seksi isi, akan menemukan keterampailan penyampaian untuk kurikulum apapun, disamping strategi yang dibutuhkan siswa untuk bertanggung jawab atas apa yang mereka pelajari: penyanjian yang prima, fasilitas yang luwes, keterampilan belajar untuk belajar, dan keterampilan hidup.

Karakteristik model pembelajaran quantum teaching terdiri dari:
1.    Sintakmatik
2.    Sistem Sosial
3.    Prinsip Reaksi
4.    Sistem Pendukung
5.    Dampak Intruksional dan Pengiring

D. Talking Stick
         Adalah suatu model pembelajaran kelompok dengan bantuan tongkat, kelompok yang memegang tongkat terlebih dahulu wajib menjawab pertanyaan dari guru setelah siswa mempelajari materi pokoknya, selanjutnya kegiatan tersebut diulang terus-menerus sampai semua kelompok mendapat giliran untuk menjawab pertanyaan dari guru. Dalam penerapan model pembelajaran Kooperatif Tipe Talking Stik ini, guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok dengan anggota 5 atau 6 orang yang heterogen. Kelompok dibentuk dengan mempertimbangkan keakraban, persahabatan atau minat, yang dalam topik selanjutnya menyiapkan dan mempersentasekan laporannya kepada seluruh kelas.

B.   Langkah – langkah dalam menerapkan model pembelajaran
      Langkah – langkah dalam menerapkan model pembelajaran antara lain sebagai berikut :
      Penerapan model pembelajaran berbasis masalah terdiri dari lima langkah utama yang dimulai dengan guru memperkenalkan siswa dengan situasi masalah dan diakhiri dengan penyajian dan analisis hasil kerja siswa.
Tahap 1 Orientasi siswa pada masalah
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan,
memotivasi siswa agar terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
Tahap 2 Mengorganisasi siswa untuk belajar Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.
Tahap 3 Membimbing penyelidikan individual dan kelompok
Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalahnya.
Tahap 4 Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Guru membantu siswa merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model serta membantu berbagai tugas dengan temannya
Tahap 5 Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Guru membantu siswa melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan dan proses-proses yang mereka gunakan.


B.   Model Pembelajaran  Cooperative Learning
Langkah
Indikator
Tingkah Laku Guru
Langkah 1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa.
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan mengkomunikasikan kompetensi dasar yang akan dicapai serta memotivasi siswa.
Langkah 2
Menyajikan informasi
Guru menyajikan informasi kepada siswa
Langkah 3
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar
Guru menginformasikan pengelompokan siswa
Langkah 4
Membimbing kelompok belajar
Guru memotivasi serta memfasilitasi kerja siswa dalam kelompokkelompok belajar
Langkah 5
Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi pembelajaran yang telah  dilaksanakan
Langkah 6
Memberikan penghargaan
Guru memberi penghargaan hasil belajar individual dan kelompok.

C.   Quantum Teaching 

1.    Tumbuhkan
Guru membuat pertanyaan tentang kemampuan siswa dengan memanfaatkan pengalaman siswa dan mencari tanggapan, manfaat serta komitmen siswa. 
Guru membuat strategi dengan melakukan aplikasi ataupun cerita tentang pelajaran yang bersangkutan.
2.   Alami
Guru memanfaatkan pengetahuan dan keingintahuan siswa berdasarkan pengalaman siswa dan mampu mengasah otak siswa agar dapat menyelesaikan masalah. Siswa dapat memahami informasi ataupun kegiatan serta memanfaatkan fasilitas yang ada sesuai dengan kebutuhan siswa.
3.  Namai
Pemberian nama (simbol-simbol) ataupun identitas dan mendefinisikan suatu pertanyaan. Guru mengajarkan konsep, keterampilan berpikir, dan strategi belajar dengan menggunakan gambar, warna, alat bantu, kertas atau alat yang lainnya. Siswa dapat mengetahui informasi, fakta, rumus, pemikiran, tempat dan sebagainya berdasarkan pengalaman agar pengetahuan tersebut berarti.
4.  Demonstrasikan
Guru memberi peluang untuk menerjemahkan dan menerapkan pengetahuan siswa ke dalam pembelajaran yang lain dan ke dalam kehidupannya. Siswa dapat memperagakan atau mengaplikasikan tingkat kecakapannya dengan pelajaran.
5.  Ulangi
Guru mengulangi hal-hal yang kurang jelas bagi siswa. Siswa dapat dengan mudah memahami dan mengetahui pelajaran tersebut. Guru memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengajarkan pengetahuan kepada siswa yang lain.
6.  Rayakan
Mengadakan perayaan bagi siswa akan mendorong siswa memperkuat rasa tanggung jawab dan mengamati proses belajar sendiri. Perayaan tersebut akan mengajarkan siswa mengenai motivasi belajar, kesuksesan, langkah menuju kemenangan. Pujian yang didapatkan akan mendorong siswa agar tetap dalam keadaan bersemangat dalam proses belajar mengajar. Biasanya pada saat siswa mencapai sesuatu, siswa hanya melanjutkan kegiatan selanjutnya, tanpa menciptakan daya pendorong untuk mengulangi keberhasilan itu. Sebagai guru, kiranya menanamkan bibit kesuksesan, dan selalu menghubungkan belajar dengan perayaan. Perayaan tersebut dapat dilakukan dengan tepuk tangan, pujian dan memberi penilaian.

D.   Talking Stick
      Adapun Langkah-langkah Model Pembelajaran Talking Stick adalah sebagi berikut :
1.    Guru menyiapkan sebuah tongkat yang panjangnya 20 cm.
2.    Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari,kemudian memberikan kesempatan para kelompok untuk membaca dan mempelajari materi pelajaran.
3.    Siswa berdiskusi membahas masalah yang terdapat di dalam wacana.
4.    Setelah siswa selesai membaca materi pelajaran dan mempelajari isinya, guru mempersilahkan siswa untuk menutup isi bacaan.
5.    Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada salah satu siswa, setelah itu guru memberikan pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya, demikian sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru.
6.    Guru memberikan kesimpulan.
7.    Guru memberikan evaluasi/penilaian.
8.    Guru menutup pembelajaran.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
      Dari kutipan-kutipan diatas dapat disimpulkan bahwa model-model pembelajaran sangat dipergunakan dalam pendekatan pembelajaran, sehingga peserta didik dan pendidik dapat melakukan proses pembelajaran secara efektif optimal dan mencapai tujuan pembelajaran yang telah direncanakan.
Saran
      Penulis menyadari bahwa makalah  ini masih jauh dari sempurna, untuk itu kritik, saran dan masukan yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan, agar bisa menjadi masukan kedepannya bagi penulis.
                                           



DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2012. Cooperative Learning.
Emildadiany, Novi. 2008.Cooperative Learning TeknikJigsaw.http://Akhmadsudrajat.Wordpress.Com/2008/07/31/Cooperative-Learning-Teknik-Jigsaw/.
Slavin, Robert E.2005.COOPERATIVE LEARNING Teori, Riset, dan Praktik diterjemahkan oleh Narilita Yusron.Bandung:Penerbit Nusa Media.
Sunartombs. 2009. Pengertian Cooperative Learning.  
http://basicartikel.blogspot.com/2013/01/model-pembelajaran-quantum-teaching.html
              Aceng, Jaelani dan Sumadi.2010. Penerapan Metode Quantum Teaching Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika pada Materi Pokok Penjumlahan dan Pengurangan. EduMa, Vol. 2, No. 1
http://www.sriudin.com/2012/04/model-pembelajaran-talking-stick.html



Tidak ada komentar:

Posting Komentar